Basri Wahid

Banyak yang mengatakan bahwa guru yang bernama BASRI WAHID ini salah mengambil jurusan. Pasalnya, karena ia lebih banyak berkecimpung di bidang seni mus...

Selengkapnya
Belajar Makna Syukur dari Tenaga Medis

Belajar Makna Syukur dari Tenaga Medis

#Tantanganmenulisgurusiana

#Tantangan hari ke-47

Sebelum tidur, semalam saya menyempatkan diri untuk membuka gawai. Ada sebuah video tantang tenaga medis yang mempersiapkan diri dengan pakaian lengkap sebelum melaksanakan tugasnya. Video itu menggambarkan dengan jelas proses mengenakan baju, celana, masker , penutup kepala hingga beberapa lapis. Yang terlihat tinggal kedua mata petugas medis tersebut.

Melihat video itu, saya membayangkan betapa sesak dan panasnya harus bekerja berhari-hari dalam keadaan terbalut baju kemanan seperti itu. Bagaimana jika mereka kebelet pipis atau buang air besar? Bagaimana pula mereka harus beristirahat, untuk sekedar makan, atau minum harus membuka pakaian tersebut dengan waktu yang tentu tidak sesingkat jika kita berpakaian biasa. Belum lagi resiko tertular virus jika mereka harus membuka pakaian tersebut, harus menyemprotkan desinfektan terlebih dahulu. Mereka harus membersihkan seluruh tubuh, kemudian baru melakukan aktivitas lain seperti makan, minum atau buang air. Wah! luar biasa repotnya. Itulah yang ada dalam benak saya ketika menoton video itu. Saya lantas bergumam

“Saya tak sanggup bekerja seperti ini.”

Tiba-tiba rasa syukur menyelinap, seraya berucap dalam hati “Alhamdulillah ya Allah. Kau takdirkan aku menjadi seorang pendidik, yang pekerjaannya tak seberat itu”

Saya membandingkan dengan diri sendiri, yang dalam beberapa hari ini tinggal di rumah saja, tidak menghadapi pekerjaan yang sulit seperti mereka yang mereka lakukan. Video yang baru saja saya tonton itu menyentak kesadaran saya, menancap ke dalam sanubari saya. Betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan untuk diri ini yang berprofesi sebagai guru. Ketika petugas medis tengah berjuang bertaruh nyawa demi tugas mulia menyelamatkan manusia, saya seharian berada di rumah ditemani gawai, berselancar di dunia maya, membereskan rumah, berkumpul dengan nikmatnya bersama keluarga tercinta.

Maka layakkah kita merasa bosan tinggal di rumah? Stay at home merupakan satu-satunya jalan mengurangi beban tugas mereka. Sementara kebosanan tinggal di rumah tak sebanding dengan kesengsaraan yang dirasakan oleh mereka sebagai tenaga medis.

Terkadang untuk mewujudkan rasa syukur itu memang perlu pembanding. Seorang yang sehat akan bersyukur dengan nikmat sehatnya ketika ia melihat orang yang sakit. Seorang yang memilki mobil akan merasakan betapa besar nikmat mengendarai mobil ketika melihat orang lain mengendarai sepeda motor dalam cuaca hujan lebat hanya dengan mengenakan jas hujan. Lalu seorang yang mengendarai sepeda motor akan bersyukur tatkala melihat seseorang yang mengayuh sepeda hingga puluhan kilometer dengan peluh meleleh sekujur tubuh. Namun, seorang yang mengayuh sepeda tetap akan merasa lebih baik dan bersyukur tatkala melihat orang lain yang hanya berjalan kaki.

Allah telah menegaskan tentang makna syukur melalui firmannya dalam Surat Ibrahim ayat 7

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS Ibrahim:7)

Dalam situasi merebaknya virus Covid-19 saat ini, membandingkan tenaga medis dengan tenaga pendidik menjadikan kita sadar akan nikmat yang telah diberikan kepada guru selama ini. Masihkan layak kita mengeluh dengan setiap tugas dibebankan kepada kita selaku guru? Di tambah lagi dengan tunjangan profesi yang telah kita dapatkan selama ini?

Beratnya tugas yang diemban oleh tenaga medis ketika menanggulangi wabah Virus Covid 19 telah mengajarkan kita akan makna bersyukur. Dalam situasi seperti ini, ketika virus itu mewabah seperti di Cina dan Itali, kita bisa merasakan betapa sebuah keikhlasan amat dibutuhkan dalam menjalankan tugas yang diemban. Sudahkah kita sebagai guru berjuang sekuat tenaga dengan ikhlas untuk anak didik kita?

Peristiwa ini hendaknya memberikan motivasi kepada kita untuk melaksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya. Tak ada alasan untuk berkeluh kesah. Jadikan setiap kejadian sebagai pelajaran berharga untuk meningkatkan kualitas mendidik anak bangsa, bukan hanya terjebak dalam ruitnitas belaka, tetapi betul-betul menjadi guru yang kreatif dan inovatif dengan penuh tanggung jawab dan keihlasan.

Semoga kita selalu ikhlas dalam menjalankan amanah ini. Ketika kita telah menanamkan rasa ikhlas dan semata-mata hanyalah perwujudan dari konsep ibadah kita kepada Allah SWT, maka yakinlah semuanya akan bernilai di mata Allah dan dijadikan sebagai ladang amal kita di akhirat nanti. Maka bersyukurlah!

Tanjungpandan, 26 Maret 2020

Basri Wahid

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search